Menjadi Rumah Sakit Paru Kelas B Unggulan Pada Tahun 2019

BBKPM | Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat Surakarta

Wednesday 22 November 2017

Bersama Melawan Tuberkolosis

E-mail Print PDF

Benarkah saya terkena penyakit TBC? Mengapa bisa, padahal dalam keluarga saya tidak ada keturunan yang menderita penyakit seperti ini.” Ungkapan ini disampaikan oleh seorang pasien yang telah menjalani pemeriksaan kesehatan dan dinyatakan terkena tuberculosis (TBC). Penyakit yang telah ada sejak jaman kuno dan sampai saat ini masih saja menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, bahkan negara kita menempati urutan ke-3 untuk jumlah penderita TBC di dunia. Setiap tahunnya kurang lebih ada 500.000 penderita baru dengan jumlah kematian akibat penyakit ini sekitar 100.000 orang.

Tuberkulosis : Penyakit Menular Berbahaya, Tapi Bisa Disembuhkan

Ungkapan pasien di atas mencerminkah masih adanya anggapan keliru sebagian masyarakat bahwa TBC merupakan penyakit keturunan. Penyakit ini merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh kuman/bakteri Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini berbentuk batang dan merupakan bakteri tahan asam. Penularan terjadi melalui udara yang mengandung bakteri TBC yang dikeluarkan melalui percikan ludah/dahak dari penderita TBC paru pada waktu mereka batuk, bersin atau berbicara. Seorang penderita TBC yang tidak diobati dapat menularkan penyakit tersebut pada 10 (sepuluh) orang di sekitarnya.

Gejala pokok seseorang dicurigai TBC yaitu batuk berdahak selama 2 minggu atau lebih . Sedangkan gejala tambahan dapat berupa sesak nafas dan nyeri dada, dahak campur darah, demam meriang lebih dari sebulan, nafsu makan dan berat badan menurun, serta berkeringat tanpa kegiatan di malam hari.

 

Pemeriksaan yang harus dilakukan untuk mendiagnosa penyakit TBC Paru adalah pemeriksaan dahak untuk mendeteksi adanya kuman BTA (Basil Tahan Asam). Pemeriksaan radiologi dapat juga dilakukan untuk menunjang penegakan diagnosa.

Perlu diketahui juga bahwa selain menyerang organ paru, TBC juga dapat menyerang organ lainnya yang disebut dengan TBC ekstra paru seperti otak, tulang, usus dan kelenjar limfe, saluran kemih dan alat kelamin.

Lantas bagaimana jika seseorang telah dinyatakan terkena TBC? Jika seorang tersangka penderita TBC didiagnosa terkena TBC maka harus segera diobati dengan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) selama minimal 6 (enam) bulan secara teratur sampai dinyatakan sembuh. Pengobatan yang tidak teratur serta putus di tengah jalan dapat mengakibatkan kegagalan pengobatan bahkan dapat menyebabkan kuman menjadi kebal (resisten) terhadap OAT.

Mencegah lebih baik daripada mengobati. Prinsip ini hendaknya benar –benar dilakukan agar penyakit TBC tidak menyerang kita, mengingat biaya yang cukup mahal serta jangka waktu pengobatan yang panjang jika telah terkena. Pencegahan dapat dilakukan melalui lingkungan dan rumah yang sehat, pola makan yang baik dengan gizi seimbang, serta kebersihan diri untuk menjaga daya tahan tubuh sehingga tidak mudah terkena infeksi.

ANCAMAN TB DAPAT MENYERANG SIAPA SAJA

Penderita TB sebagian besar (+ 70 %) adalah golongan usia produktif. Hal ini tentunya akan berpengaruh terhadap penurunan kemampuan fisik dan produktivitas individu, keluarga maupun perusahaan/instansi tempat penderita bekerja. Sehingga TB dapat membawa dampak negatif baik sosial maupun ekonomi.

Masih adanya stigma di masyarakat bahwa TBC merupakan penyakit keturunan, sehingga jika ada salah satu anggota keluarga yang terkena TBC, maka keluarga tersebut dainggap sebagai keluarga yang mempunyai riwayat TBC. Anggapan yang keliru tersebut membuat orang yang memounyai gejala TBC kadang malu dan takut untuk periksa sejak awal. Kondisi ini masih sering terjadi dan penderita datang ke pelayanan kesehatan setelah adanya keluhan yang berat seperti batuk darah, nyeri dada dan sesak nafas yang berat atau adanya gangguan pada organ ekstra paru.

Penyakit TBC termasuk salah satu dari 14 penyakit lainnya yang termasuk dalam golongan DOMI (Diseases of The Most Improverish) yaitu penyakit yang memiskinkan. Penyakit TBC memang erat kaitannya dengan masalah kemiskinan, gizi buruk, dan lingkungan, tetapi bukan berarti hanya orang miskin saja yang dapat terkena. Perilaku hidup yang tidak sehat seperti pola makan yang tidak tepat, kebiasaan merokok, membuang ludah sembarangan, rumah yang kurang sehat dapat mempermudah sesorang untuk terkena TBC. Jadi, setiap orang tidak ada yang bebas dari serangan kuman TBC.

SOLUSINYA DENGAN “BERGANDENGTANGAN”

Tanggal 24 Maret 1882 Robert Koch mengumumkan tentang penyakit tuberculosis di Berlin, Jerman. Untuk menghormati jasanya, maka tanggal 24 Maret ditetapkan sebagai Hari TBC Sedunia. Bahkan nama Koch dipakailah nama Koch Pulmomum (KP) sebagai nama lain dari penyakit TBC. Tema Hari TBC Sedunia tahun ini adalah “On The Move Againts Tuberculosis, Innovate and Accelarate Action (Tingkatkan Inovasi, Percepat Aksi Melawan Tuberculosis)”. Hal ini merupakan momen yang tepat untuk kita merenungkan mengapa TB masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang cukup besar.

Upaya apa yang telah dilakukan untuk menyelesaikan permasalahan TBC? Berbagai upaya telah dilakukan untuk menanggulangi penyakit TBC di Indonesia, bahkan sejak jaman Belanda pada waktu masih menguasai negeri ini. Tahun 1969 program pengendalian TBC mulai dilakukan. Kemudian tahun 1995 – 2000 merupakan periode persiapan dan impelementasi DOTS. DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse) adalah stategi pengobatan TBC jangka pendek dengan pengawasan langsung. Di beberapa negara seperti China dan India yang merupakan 2 negara terbesar penyumbang jumlah penderita TB di dunia, DOTS dapat menghasilkan angka kesembuhan yang tinggi, sehingga WHO merekomendasikan DOTS sebagai strategi dalam penanggulangan TB.

Terdapat 5 (lima) komponen dalam strategi DOTS yaitu komitmen politis, pemeriksaan dahak mikroskopis yang terjamin mutunya, pengobatan jangka pendek yang standar, ketersediaan OAT (Obat Anti Tuberkulosis), dan Sistem pencatatan dan pelaporan.

Sebagai masalah kesehatan masyarakat, tentunya TBC harus ditanggulangi secara bersama – sama bukan? Seluruh komponen baik pemerintah (pusat dan daerah ), swasta, organisasi masyarakat, maupun semua unsur masyarakat harus dilibatkan. Masing – masing berperan sesuai dengan kapasitas dan kompetensinya. Jadi, hanya dengan bergandengtangan masalah TBC dapat ditanggulangi sehingga tidak lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat. Jangan wariskan masalah TBC pada generasi penerus kita!

Penulis :
Agustin Nur Arifah,SKM

Last Updated ( Tuesday, 29 January 2013 09:19 )  

Add comment


Security code
Refresh

In order to view this object you need Flash Player 9+ support!

Get Adobe Flash player
Joomla! Slideshow

Tips

In order to view this object you need Flash Player 9+ support!

Get Adobe Flash player
Joomla! Slideshow

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini138
mod_vvisit_counterMinggu ini914
mod_vvisit_counterBulan ini3650
mod_vvisit_counterTotal Pengunjung677001

Sedang Online

We have 66 guests and 2 members online
  • MaybellCho
  • LannyHouck

Copyright © 2013 BBKPM | Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat Surakarta
Jl. Prof. Dr. Soeharso no. 28 Surakarta. Telp: (0271) 713055 Fax.: (0271) 713055 / 720002
www.bbkpmska.com E-mail:
bbkpm_surakarta@yahoo.co.id